Perekonomian Indonesia di era Joko Widodo
Masalah
ekonomi pemerintahan Jokowi
1. Utang Luar Negri
Pemerintah terus menambah utang dalam bentuk valuta
asing (valas) di tengah situasi pandemi. "Di tengah situasi pandemi,
pemerintah terus menambah utang dalam bentuk penerbitan utang valas yang rentan
membengkak jika ada guncangan dari kurs rupiah," ujar dia, berdasarkan
data International Debt Statistics 2021 yang dikeluarkan Bank Dunia, Indonesia
tercatat menempati urutan ke-7 tertinggi di antara negara berpendapatan
menengah dan rendah dalam Utang Luar Negeri (ULN). Jumlah utang Indonesia
adalah 402 miliar dollar Amerika Serikat, jauh lebih besar dari pada Argentina,
Afrika Selatan dan Thailand. Sementara itu, pemerintah pada tahun 2020 ini
menerbitkan Global Bond sebesar 4,3 miliar dollar AS dan jatuh tempo pada 2050
atau tenor 30,5 tahun. Artinya, pemerintah sedang mewariskan utang pada
generasi masa depan. setiap satu orang penduduk Indonesia di era pemerintahan
Jokowi-Maa’ruf Amin tercatat menanggung utang Rp 20,5 juta. Perhitungan itu
didapat dari total utang pemerintah sebesar Rp 5.594,9 triliun per Agustus 2020
dibagi 272 juta penduduk.
2. Inflasi Yang Rendah
Inflasi yang rendah berakibat pada harga jual barang
yang tidak sesuai dengan ongkos produksi dari produsen. Bahkan, tidak
sedikit produsen yang menawarkan harga diskon agar stok tahun sebelumnya bisa
habis terjual. Dalam jangka panjang jika inflasi tetap rendah maka produsen
akan alami kerugian bahkan terancam berhenti beroperasi. Imbas dari berhentinya
operasi, akan berdampak pada pekerja. Bhima mengatakan, pemutusan hubungan
kerja (PHK) massal terus mengalami kenaikan. Diperkirakan, jumlah karyawan yang
di PHK dan dirumahkan mencapai 15 juta orang. Hasil survey ADB (Asian
Development Bank) menunjukkan UMKM di Indonesia terus lakukan pengurangan
karyawan setiap bulannya.
3. Krisis Pandemi
Indonesia termasuk ke dalam 18 negara dengan kasus
Covid-19 terbanyak di dunia versi Worldometers. Tingginya kasus positif
Covid-19 membuat mobilitas masyarakat rendah, pertumbuhan ekonomi nasional
mengalami penurunan hingga menyentuh level -5,32 persen akibat terlambatnya
penanganan Covid19 yang dilakukan Pemerintah. Sementara itu, Bhima menyebut,
China yang merupakan negara asal pandemi mencatatkan pertumbuhan positif 3,2
persen di periode yang sama. Vietnam juga tumbuh positif 0,3 persen karena
adanya respons cepat pada pemutusan rantai pandemi, dengan lakukan lockdown dan
merupakan negara pertama yang memutus penerbangan udara dengan China.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar